Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 April 2011

Bukan Sekedar Tanah Tertinggi


Sekedar catatan: Gn. Ciremai – Apuy, 10 - 12 November 2009


Oleh: Damar Fery Ardiyan


Kamis, 12 November, mungkin hanya kami berlima yang berdiri paling tinggi di tanah Jawa Barat. Karena tak berselang lama saat matahari menyibak kelambu hitam, kami menginjak batu terakhir di bibir kawah tertinggi Jawa Barat, gunung Ciremai dan sesaat beberapa waktu melihat dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah dengan penglihatan yang memang terbatas, kita tidak melihat pendaki lain di tanah sejauh 3078 dari permukaan laut ini. Oleh karenanya, anggap saja pada hari itu hanya kita berlima; Abo, Gun-gun, Hendro, Ganjar dan saya, yang diperkenankan berdiri di bawah selubung kaki langit di puncak gunung Ciremai.

Bagi saya tidak mudah untuk menginjak bibir kawah itu, karena mungkin saya tidak dilahirkan menjadi pendaki handal yang dapat mempersingkat waktu normal pendakian dan juga karena memang saya kurang untuk melatih raga. Hanya saja, percakapan dalam diri lah yang membuat saya kuat untuk melanjutkan perjalanan, walaupun terkesan lambat. Tetapi motivasi yang dibentuk secara pribadi ini menjadi tangga yang sangat membantu untuk kembali meninggikan langkah.

Sebab itu, saya terus melangkah dan tidak jarang menghentikan kaki untuk menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perjalanan. Sedikit berjalan, kemudian berhenti ini sudah saya lakukan jauh sebelum saya mencapai pos pertama dari lima pos yang ada di jalur pendakian Apuy, di luar pos pendakian awal, juga Goa Walet yang dikatakan tempat paling enak untuk mendirikan tenda, karena letaknya di sebuah lembah sehingga cukup terhalang oleh angin dan pada saat musim hujan tempat ini menyediakan air rembesan. Tetapi, pada hari ke dua pendakian, kami tidak memilih untuk bermalam di tempat itu. Karena sebelumnya, pada 11 November kami memutuskan untuk mencapai puncak, kemudian langsung kembali ke pos awal kami; rumah.

Tetapi rencana itu berganti, karena sekitar pukul 13.00 cuaca terlihat tak menentu, disamping lelah yang kami rasai masing-masing dan juga karena keinginan untuk melihat matahari terbit di atas gunung yang katanya penyendiri, diantara sekawanan gunung-gunung lain. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk kembali bermalam di tempat yang tidak jauh dari bibir kawah atau kurang dari sepuluh menit mendaki bebatuan untuk mencapai puncak dan putusan ini disandingkan dengan kondisi logistik yang masih cukup untuk satu hari ke depan.

Tempat kami bermalam cukup enak dan pas untuk mendirikan satu tenda, juga terhalang oleh bebatuan yang sangat membantu untuk menghalau angin. Dari tempat itu juga kami bisa melihat matahari terbenam, tetapi sayang cuaca mendung kala itu tidak membuat kami melihat perpaduan warna jingga yang memedar dari balik awan. Bahkan, sebelum kami mendirikan tenda, hujan sudah turun, sehingga dengan keadaan basah kami bergegas mendirikan pelindung hujan dan berlindung dengan pakaian yang cukup basah. Al hasil, dalam tenda yang tadinya kering pun menjadi becek dan kotor.

Tak lama, hujan pun berhenti. Kami pun kemudian menata ulang posisi tenda, juga merapihkan barang-barang bawaan yang sebelumnya tidak sempat dirapihkan. Melalui tangan Hendro lah tenda kami terlihat kering kembali dan juga cukup bersih. Sedangkan, yang lain bertugas di luar tenda sesaat matahari kembali bertenaga memanaskan bumi. Panas datang tidak lama dan mendung pun sempat beberapa kali terlihat pada saat itu, walaupun tidak sampai hujan besar tetapi cukup menghentikan gerak kami.

Setelah semuanya selesai tertata, kami pun santai-santai, sambil mengobrol ngalor ngidul untuk mengaburkan jarak waktu. Sehingga tidak terlihat jelas dan bisa terasa cepat untuk mencapai esok. Pembicaran tak penting sekalipun, akan menjadi berharga untuk membangun suasana ramai di atas sana, disamping keramaian alami alam yang saling beradu dalam gelap.

Selain itu, keramaian pun dibentuk oleh lagu yang Abo dan Hendro bawa, kemudian diperdengarkan melalui penghantar suara pinjaman dari Budi hingga kami bersiap melelapkan sadar. Dengan cara seperti itu kami mengisi ruang kosong untuk memberikan suasana ala rumahan di tengah hutan yang membentang. Bahkan Gun2, membuat beberapa penerangan semacam lentera yang terbuat dari penggabungan lilin dan botol air mineral bekas yang telah dibagi dua sebelumnya. Lentera lilin atau botol air mineral yang di isi lilin ini digantungkan di ranting pohon persis di depan tenda kami. Dengan begitu, semakin dekat saja kami dengan suasana rumahan yang (seolah) terasa hangat. Walaupun mungkin tak satu pun lentera tertera pada halaman rumah kami, tetapi suasana hangat sekaligus dingin itu sempat menemani kami berlima makan malam yang tidak biasa.

Sambil membiarkan lilin habis dalam tetesan, kami pun melelelapkan tubuh dalam kantong tidur secepatnya, juga melelapkan telinga dari dengkuran. Dengan harapan dapat beristirahat cukup, sehingga besok dapat kembali mendaki bebatuan, kemudian kembali menapaki jalur yang telah kita lalui untuk melapor kembali kepada “mang Apuy” dan kemudian bersiap untuk pulang.

“Mang Apuy”
Yah, mang Apuy tak lain sebagai tetua bagi pendaki yang ingin mendaki gunung Ciremai atau biasa di sebut dengan juru kunci. Bagi kebanyakan pendaki keberadaanya tidak asing lagi, karena atas izin beliau lah para pendaki di berikan keluasan untuk melewati jalur puncak dari Apuy. Hanya saja ada beberapa pantangan yang beliau sarankan kepada pendaki untuk tidak bertindak semaunya ketika tengah melakukan perjalanan menuju puncak Ciremai. Dengan bahasa sundanya yang khas, mang Apuy menyebutkan kalau tidak boleh menyebut kata “kuda” dan beberapa binatang lainnya di atas sana. Tetapi, kita diperkenankan untuk mengatakan “anjing” sebagai kata keluhan lelah Mendengar beberapa pantangan yang dikatakannya, pada saat itu tidak ada diantara kami yang menanyakan mengapa tidak diperbolehkan mengucapkan kata-kata tersebut, kami hanya menurut dan menjadi anak baik untuk mengikuti apa yang dikatakan pria yang tidak muda lagi ini.

Walaupun tubuhnya telah termakan usia, tetapi ingatannya masih segar seperti sedia kala. Beliau banyak menyimpan ragam cerita lampau, baik senyum dan air mata yang terjadi di gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Tidak seperti Ciremai yang bisu akan kisah yang terjadi di tengah hutannya juga kawahnya, mang Apuy dengan mudah menceritakan apa saja yang kami tanyakan ataupun tidak.

Saat kami menanyakan mengenai beberapa nisan yang terdapat di puncak dan jalur, mang Apuy menjawab ramah, kalau batu nisan tersebut sebagai penanda bagi pendaki yang meningal di atas sana. Bahkan dirinya menceritakan kalau ada pendaki yang jatuh ke kawah karena terdorong angin yang cukup besar, sehingga kawah besar itu menelan nafasnya dan menyisahkan tubuhnya yang penuh luka. Selain cerita meninggalnya para pendaki, mang Apuy pun tak segan menceritakan kisah pribadinya di Ciremai yang mana dengan tenaga mudanya pernah mengantar tentara Jepang menyusuri gunung tersebut. Juga kisah teladan mengenai dirinya yang ketika seumur kami dapat menaiki Ciremai dengan waktu singkat, yakni selama tiga jam perjalanan dan turun hanya setengahnya.

Sedangkan kami perlu waktu sembilan jam dengan rincian waktu empat jam mencapai pos tiga (Tegal Wasawa) dan lima jam mencapai lokasi dimana kita mendirikan tenda tidak jauh dari bibir kawah. Sembilan jam pendakian ini terhitung ketika kami sudah berkumpul semua pada satu titik dan tidak menutup kemungkinan bahwa di antara kami ada yang bisa sampai lebih awal.

Karena memang usianya yang sudah tua, Mang Apuy pada saat ini tidak dalam kondisi baik dan beliau mengatakan, kalau saat ini dirinya sudah tidak mendaki. Sehari-hari, waktunya hanya disibukan dirumah dan mengumpulkan ingatan untuk kemudian dapat memberi gambaran kepada pendaki yang mengetuk pintu rumahnya kelak. Rumah mang Apuy ini selalu terbuka bagi pendaki, bahkan ketika kami datang dan pulang, keramahan selalu menyambut kami dan menyilahkan kami untuk meminum serta memakan makanan yang telah beliau sediakan. “Terimakasih mang Apuy,” walaupun kami tidak tahu namamu, tetapi “mang Apuy” adalah nama kami untukmu.

Selain itu, ia pun berkata dengan bangga bahwa ada tiga kelebihan gunung yang sering ia daki ini. Saya tidak apal semua, tetapi ia berkata bahwa, “Ciremai itu gunung pang tinggina, pang kasepna, ...” dan satu lagi saya lupa. Memang benar, gunung ini tinggi dan kasep se-Jawa Barat dan itu adalah fakta. Ibarat gambar bocah TK, gunung Ciremai memang begitu adanya. Berbentuk satu gunung besar dengan cekungan di tengahnya, berlatar biru dan kebun mengelilinginya.

Titik Awal
Tetapi gunung yang tinggi dan kasep ini tidak dapat kita lihat dari kejauhan, karena pada saat itu hamparan kabut selalu menyelubungi pesona Ciremai dengan pekat. Kabut ini menutupi kebesaran Ciremai, sampai kami mendekatinya pun tidak terlihat sama sekali bentuknya yang indah itu. Padahal ketika melalui jalur Daendles, biasanya kita dapat melihatnya dikejauhan dari daerah sekitar Cirebon, Kadipaten dan Majalengka. Tetapi saat mengawali perjalanan dari Jatinangor memakai kendaraan umum (elf) jurusan Cirebon dan berhenti di Kadipaten dengan ongkos Rp 10000 pun kita tidak dapat melihatnya. Bahkan ketika berganti elf jurusan pasar Maja yang bertarif Rp 6000 hingga menaiki mobil pick-up angkutan sayur Rp 5000 ke desa Apuy juga kita sama sekali tidak melihat setinggi apa Ciremai dari dekat. Benar saja tidak terlihat, karena pada saat itu hujan kerap membasahi desa yang berada di bawah kaki Ciremai dengan ketinggian 1024m dpl ini. Bahkan mang Apuy yakin kalau pendakian kita akan disambut dengan hujan. Benar saja, belum juga sampai ke pos pertama pendakian, hujan sudah mengguyur tubuh kami hingga pos tiga. Lalu pada pos tiga inilah kami memutuskan untuk bermalam karena pada saat itu sudah mulai gelap. Sebelumnya, kami berangkat dari rumah mang Apuy sekitar pukul 14.00, setelah membayar registrasi sebesar Rp 6500 kepada mang Apuy, juga menyerahkan identitas diri sebagai bentuk yang menurut saya sangat penting untuk memulai pendakian. Mengapa? karena identitas ini dapat menorehkan jejak terakhir kita kepada seseorang, sebagai pegangan jika terjadi sesuatu terhadap kita ditengah hutan. Walaupun demikian, kami tidak mau mematrikan nama di atas nisan sesaat memulai pendakian.

Oleh karena itu, perbekalan lah yang mesti disiapkan dengan maksimal. Dari mulai perlengkapan yang menunjang kehangatan, penangkal hujan dan angin, makanan, penerangan, sampai air minum yang mesti kita bawa lebih banyak. Karena memang Ciremai dikenal sebagai gunung yang minim mata air, biarpun ada, tetapi kerap kering pada saat musim kemarau. Sekalipun hujan pada saat itu, tetapi menurut informasi terakhir mata air tersebut kering. Untuk itu, kami berlima membawa sekitar 24 liter air dari pos pendakian untuk keperluan dua hari satu malam. Berat memang, tetapi tidak lebih berat ketimbang mesti mencari air disana dan menadah air hujan. Bahkan, air yang direncanakan untuk dua hari ini, dapat mencukupi kebutuhan kita selama tiga hari dua malam di atas sana. Alhamdulillah..

Akhirnya, perjalanan ini bukan sekedar mendaki tanah tertinggi Jabar. Tetapi, belajar untuk bertahan dalam persiapan, berharap dan meraihnya, mengenal teman terdekat, memberi apa yang kita punya, serta menyiapkan tangan untuk mengangkat teman lebih tinggi**

Senin, 11 April 2011

Pabrik dan Toko Kopi Aroma: Bertahan Karena Kualitas

Penulis: Damar Fery Ardiyan
dari Banceuy, Bandung

Menyeduh kopi panas pada pagi hari atau saat mendung yang kemudian hujan dapat memberikan cita rasa khas saat serbuk tersebut menyentuh lidah. Apalagi, jika butiran halus berwarna gelap yang diminum ini adalah kopi hitam murni. Bagi pecinta kopi, rasa istimewa serbuk hitam ini tentu tidak berasal dari sembarang kopi, karena keistimewaan rasa dilahirkan oleh biji kopi yang berkualitas baik dan juga proses produksi yang baik. Untuk itu, mari kita tengok pabrik dan toko kopi Aroma yang selalu menomor wahidkan kualitas serbuk kopi. Terletak di Jl. Banceuy no. 51, Bandung, toko kopi dan pabrik kopi Aroma menghantarkan keunikan tersendiri karena telah bertahan dengan proses pengolahan biji kopi tahun 1930 hingga saat ini.
Bagi pendatang, mungkin akan kesulitan untuk mencari toko dan pabrik Aroma karena letaknya dipertigaan antara jalan Banceuy dan jalan Pecinan Lama yang ramai. Lebih-lebih, bahu jalan yang merapat pada pabrik ini pun kerap dijadikan lapak bagi pedagang onderdil mobil sebagai showroom barang jualannya. Sehingga bangunan bergaya art deco yang begitu kental dengan kesan kuno ini tidak dapat terlihat begitu jelas. Tetapi, tidak perlu bingung dan khawatir tidak menemukan letak tokonya, apalagi bagi Anda yang bukan berasal dari Bandung. Karena jika melewati jalan Banceuy, Anda akan mengendus aroma panggang dari biji kopi khas melalui cerobong asap yang akan menghantarkan rasa penasaran kita pada ruang hilir mudik pembeli yang berukuran kurang lebih 3x2 meter. Melalui ruang ini, pembeli dapat memesan kopi kepada pelayan yang siap menyajikan bungkusan kopi sesuai permintaan. Selain itu, ruangan yang diperuntukan bagi pembeli pun dilengkapi dengan etalase yang menyimpan berbagai biji kopi tua beserta alat penggilingan biji kopi yang juga telah berumur.

Kemasan kopi Aroma

Saat saya mengunjungi Aroma, Widyapratama (57) memersilahkan untuk melihat kondisi pabrik yang masih dipertahankan keasliannya. Berbeda dengan ukuran ruang penjualan yang cukup sempit, Aroma memiliki ruang produksi yang sangat luas. Ada ruang yang difungsikan sebagai penyimpan berkarung-karung biji kopi, ruang penjemuran, ruang penggilingan dan juga ruang untuk menyangrai biji kopi tersebut. Bahkan, alat untuk membuat kopinya pun masih dipertahankan keasliaannya sejak pabrik kopi ini berdiri. Di dalam ruang pabrik ini, Widyapratama menceritakan bahwa usaha ini adalah usaha yang diperolehnya dari sang ayah yang bernama, Tan Houw Siang (alm). Sebelum membangun pabrik kopi Aroma, ayah Widya adalah seorang pengolah kopi di perkebunan milik Belanda. Kemudian, dari pengalaman ini lah pabrik kopi Aroma berdiri. “Awalnya pabrik ini milik ayah saya yang didirikan pada tahun 1930 dan kemudian diwariskan ke saya karena saya anak satu-satunya,” begitu kenang widya. 

Widyapratama, pemilik pabrik dan toko kopi Aroma Jl. Banceuy 51 Bandung

Menjadi anak tunggal, tidak lantas menjadikan Widya manja. Karena ketika tengah mengerjakan sesuatu, Widya selalu dididik oleh ayahnya untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan gigih, begitu pula ketika mengolah biji kopi. Sambil menyangrai biji-biji kopi, Widya menceritakan kalau dalam catatan hidupnya tidak ada waktu untuk berleha-leha. Dia selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan sesuatu, sehingga itu menjadi sebuah kebiasaan dalam rutinitas pria yang juga bekerja sebagai pengajar di FE Universitas Padjadjaran ini. Oleh sebab itu, Aroma masih berdiri dengan kekhasannya sebagai toko kopi yang memandang kualitas sebagai tumpuan dalam proses produksi.
“Saya itu selalu memegang proses pembuatan kopi yang tidak berubah, dari dulu hingga sekarang,” cerita Widya yang saat itu mengenakan pakaian serba coklat. Oleh karena itu, kualitas kopi buatannya ini tidak berubah, karena Widya selalu mempertahankan dan mengontrol kualitas kopi dari mulai pemetikan biji kopi, hingga proses produksi. Dengan demikian, kopi arabika dan robusta yang ia jual ini masih bertahan dengan rasa khas tahun 30-an sampai sekarang.
Bukan tanpa alasan Widya mempertahankan proses produksi kopi juga peralatan pembuatannya seperti sekarang ini. “Kalau ada yang berubah, semua tidak seperti aslinya,” kata Widya. Bisa jadi, hal ini dilakukannya sebagai satu cara memberi hormat kepada mendiang ayahnya yang telah merintis pabrik ini dari nol. Bahkan untuk mengenang ayahnya ini, Widya pun masih menyimpan tiga sepeda kumbang tua dan peralatan baheula (lama) sebagai penanda keringat perjuangan seorang ayah sebagai penjual kopi. Lebih dari sekedar romantisme, bagi Widya mempertahankan suatu rangkaian proses kuno dan alat produksi peninggalan sang ayah ini sudah menjadi barang tentu, karena dengan begitu ia dapat menghasilkan kopi berkualitas baik. Dengan kata lain, Widya bertahan karena kualitas. Sehingga toko kopi Aroma selalu ramai pengunjung.
Buka pukul 08.00 sampai pukul 15.00, membuat pembeli seringkali sudah ada yang mengantri untuk membeli kopi robustra seharga Rp. 10.500 atau arabika Rp. 13.000 untuk takaran seperempat kilogram. Bahkan, ada juga warga negara asing yang mengantri untuk membeli kopi khas yang dihasilkan melalui serangkaian proses panjang ini. “Pembeli itu ada yang sudah berlangganan, bahkan dari kakek sampai cucunya kalau membeli kopi itu ya di sini karena sudah biasa dan tahu kualitas kopi kami,” kata suami Maria Louisa ini.

Fermentasi delapan tahun
Untuk menciptakan cita rasa kopi khas Aroma, Widya selalu menerapkan segala ilmu yang diberikan sang ayah dalam membuat kopi, walaupun itu memerlukan proses pembuatan yang sangat lama dan panjang. “Saat biji kopi dipetik, saya hanya minta yang berwarna merah dan biji kopi tersebut didatangkan sebulan sekali dari kebun kesini,” jelasnya. Kemudian, biji kopi yang didatangkan tersebut, ia jemur dengan memanfaatkan panas matahari selama tujuh jam, dengan alasan bahwa sinar matahari lebih alami. Lalu, setelah selesai dengan penjemuran, biji kopi tersebut di masukan ke dalam karung goni untuk difermentasikan selama tujuh sampai delapan tahun. Sangat lama bukan? hal ini dilakukannya, karena ingin menciptakan biji kopi terbaik. “Pokoknya, semakin lama biji kopi di simpan akan semakin baik, karena akan menurunkan kadar kafein dan kadar asam dari kopi,” jelas bapak dari tiga putri ini.

Proses fermentasi ini dilakukan pada tempat bernama lumbung yang berfungsi untuk memeram atau sebagai tempat penyimpanan karung goni yang berisi kopi. Cukup luas dan tinggi atap lumbung ini, tetapi karena jumlah tumpukan karung goni yang begitu banyak, lumbung ini terlihat sesak dan pengap. Saat ditanya berapa jumlahnya, pria kelahiran 16 oktober 1952 ini tidak mengetahui persis, tetapi ia memastikan bahwa karung-karung ini akan dibiarkan saja sampai lima atau delapan tahun kemudian untuk kemudian dapat diproses. 
Karena proses fermentasi panjang ini, kadar kafein dan kadar asam pada biji kopi akan turun rendah dan menjadikan kopi Aroma sangat sehat untuk di konsumsi. Bahkan, Widya mengatakan kalau kopi buatannya sangat berkhasiat untuk menyembuhkan beragam penyakit. Kopi jenis robusta misalnya dapat menyembuhkan luka dan orang yang diabetes pun dapat terobati. Sedangkan, arabika berkhasiat melancarkan peredaran darah. Selain itu, kopinya ini tidak menyebabkan sakit perut maupun kembung jika di minum pada pagi hari, begitu ucap Widya. 
Walaupun komoditinya ini mendatangkan banyak pembeli loyal, ternyata usaha Widya ini tidak terlalu memberikan omset yang tinggi. Hal ini dikarenakan proses produksi pabrik kopi Aroma masih mempertahankan sistem produksi awal ditengah persaingan produksi yang ditompang oleh kekuatan produktif berupa kapital konstan (mesin-mesin produksi otomatis). Namun, Widya tidak menghiraukan, bahkan ia mengaku sangat senang telah memberikan kopi yang berkualitas tinggi, walaupun tanpa banyak pemasukan.
“Orang ini bukan jualan, tetapi beramal mungkin,” kata saya dalam hati.
Sebelum kopi buatannya ini sampai kepada tangan pembeli, ia selalu memerhatikan dengan teliti dan menjalankan produksi kopi ini sesuai dengan ilmu yang ia peroleh untuk menjaga kualitas dari tiap butirnya. Karena menurutnya, tanpa melakukan proses seperti ini toko dan pabrik kopi Aroma tidak memiliki ciri khas lagi.  
“Kita ini jangan pernah menipu pembeli mengenai kualitas kopi yang baik (...) di sini semua alami, karena pabrik jaman dahulu tidak ada yang seperti  pabrik  jaman  sekarang yang  menggunakan bahan kimia dan serba instant. Karena itu, kami mempertahankan proses jaman dulu karena bagus, tidak merugikan,” ungkapnya seraya  mengingatkan. Selain itu, pernyataan yang sangat mengesankan ditengah riuhnya perdagangan di bawah  payung  kapitalisme yang selalu mencari ruang  dan  pasar baru  adalah ketika ia mengaku kalau dirinya  tidak  hanya  mengejar  hasil dari produksi massal untuk memenuhi permintaan pasar, karena hanya satu toko kami, di sini, Jl. Banceuy no. 51 Bandung, tambahnya sambil menunjukan telunjuk ke lantai sebagai penekanan.

Alat tua berpengalaman
Sedari pagi, Widya bersama enam karyawannya sudah sibuk menyangrai kopi dengan teknologi yang masih prima walaupun tampak tua.
“Tidak hanya gedungnya yang tua ya pak, alatnya juga begitu?,” tanya saya.
“Ya, Teknologi yang ada di sini adalah teknologi tepat guna, jadi biarpun tua tetapi masih bagus untuk menciptakan kopi bermutu baik,” tandasnya.
Alat sangrai tua itu bernama roaster. Ukurannya cukup besar dengan tungku berbentuk menyerupai globe yang bergerak memutar di atas tempat pembakaran dan tepat di bawah mulut lubang bulatan itu terdapat bidang datar yang cukup luas untuk menyimpan kopi yang telah dipanggang atau tempat pendinginan. “Bekerjanya itu memutar konstan yang menyebabkan kopi selalu bergerak di dalam tungku yang menyebabkan biji kopi terpanggang dengan rata,” katanya. Lalu, untuk mengetahui tingkat kematangannya, Widya selalu mengecek biji kopi tersebut dengan teliti melalui lubang kecil yang terdapat besi panjang bercelah pada ujungnya. Sambil menarik besi panjang berlubang yang telah terisi beberapa biji kopi panas, Widya menerangkan kalau tungku besarnya ini terbuat dari batu dan semen yang dicampur brown sugar. “Tungku ini awet karena jika semakin panas pembakarannya kandungan gula akan membuat tungku semakin rekat semennya dan hal ini membuatnya awet,” kata Widya. Selain itu, Widya pun menerangkan satu rahasia tentang proses pembuatan kopi Aroma agar lebih beraroma, yakni dengan cara membakar tungku yang berisi biji kopi dengan limbah kayu karet. Karena proses pembakaran ini, kopi dapat beraroma lebih wangi. 

Roaster, alat pemanggang biji kopi

Setelah dua jam, proses pemanggangan selesai dan kopi bisa di simpan di atas bidang datar untuk ditiriskan. Kemudian, salah seorang pekerja meratakan tumpukan kopi tersebut dengan menggunakan kayu panjang dan mengacak-ngacaknya untuk mempercepat proses pendinginan. “Jadi harus di dinginkan dulu sebelum di giling,” kata pria yang pernah juga belajar tentang kopi di Singapura ini.
Usai pemanggangan dan pendinginan, biji kopi akan lebih kering. Lalu, biji-biji tersebut dimasukan ke dalam suatu alat pemilah yang juga tua untuk memisahkan biji yang berat dan yang ringan. “Biji kopi yang berat itu lebih lebih bagus, jadi kita memerlukan tahapan ini,” ujar Widya. Setelah itu, dengan menggunakan kemasan bergaya lawas, kopi Aroma siap dipasarkan dan diseduh dalam suasana rumahan maupun dalam ruang lainnya. Agar kopi Aroma lebih terasa nikmat, kopi ini mesti diseduh dengan air masak yang mendidih. Setelah di aduk membusa, kemudian masukan sedikit gula dan kopi khas tahun 1930-an ini bisa di nikmati dalam riuh maupun santai.


Jumat, 11 Februari 2011

Guru: Pendorong Kesadaran Kelas


Oleh: Damar Fery Ardiyan

Sistem pendidikan memikul beban yang sangat berat bagi terciptanya manusia Indonesia yang mampu belajar seumur hidup. Bukan hanya belajar, tetapi menerapkan ilmunya itu untuk penerang bangsa ini, agar dapat mengisi ketiadaan dalam persaingan dunia di kemudian hari. Oleh karenanya, akhir-akhir ini cukup santer diberitakan media cetak mengenai penghapusan UN untuk tidak lagi menjadi alat ukur  bagi kelulusan siswa dan Mahkamah Agung telah merespon dengan memberi setidaknya lima putusan, yakni: (1) mengabulkan gangguan subsider dari para penggugat yakni memberi keadilan seadil-adilnya, (2) pemerintah telah lalai memenuhi hak warga dalam pendidikan, (3) meningkatkan kualitas guru, (4) pemerintah meninjau kembali sistem pendidikan, serta (5) mengambil langkah konkret mengatasi gangguan psikologi.
            Di luar putusan tersebut, tentu saja saya mendudukung agar UN tidak lagi dijadikan patokan bagi kelulusan. Karena kecenderungannya hanya sebagai alat evaluasi akhir tuntutan modernitas, yang menilai sesuatu itu dari efisiensi dan efektifitas, karena mudah untuk mengklasifikasikan siswa pintar, dan kurang pintar. Dan seiring dengan putusan MA, saya masih yakin bahwa sistem pendidikan bangsa ini dengan guru di dalamnya akan menemukan titik sempurnanya. Hanya saja diperlukan kesadaran untuk bergerak aktif dan kreatif, khususnya untuk point 2, 3 dan 4 dari putusan MA, sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang. Dalam pemikiran Paulo Friere,  aktif di sini berpengertian sebagai penolakan atas  “kesadaran palsu” atau penumpulan kesadaran kritis yang disebabkan oleh hubungan-hubungan antara manusia, struktur masyarakat, lembaga dan ideologi yang digalakan oleh kelas dominan (Pendidikan Alat Perlawanan, Siti Murtiningsih).
            Oleh karenanya, sistem pendidikan di negara kita pun mesti terbuka untuk memberikan kesadaran kelas. Saya rasa guru yang tak lain berperan sebagai subjek untuk memberikan didikan, mesti paham betul mengenai hal ini. Sehingga pelajaran tidak lantas diberikan begitu saja, tetapi ada proses seleksi dan mengedepankan ilmu-ilmu yang berorientasi untuk perjuangan kelas, bukan ilmu-ilmu yang memberikan pengukuhan bagi kelas dominan. Guru pun mesti memberi penyadaran kepada peserta didiknya, kalau saat ini kita hanyalah makhluk yang terdominasi, kelompok subordinat yang tidak lepas dari hegemoni kekuasaan yang ada.
            Oleh karena itu Friere mengatakan, dunia pendidikan itu sebagai alat perlawanan! Karena hakikatnya adalah untuk membebaskan manusia. Maka, pendidikan harus mengambil posisi kritis terhadap tatanan sosial yang tak berkeadilan. Pendidikan adalah sistem yang dapat menguji dan mengintegrasikan semua nilai dalam kehidupan manusia serta membinanya ke dalam kepribadian peserta didik. Sehingga peserta didik dipupuk tumbuh kesadarannya, supaya kemudian dapat bersikap kritis terhadap realitas yang dihadapinya.
            Karena alasan inilah, peran guru begitu besar untuk mendidik manusia yang tidak sekedar cerdas, tetapi peka, juga kritis terhadap realitasnya masing-masing. Guru pun jangan terjebak dengan kata profesionalisme, yang menurut saya tak lain sebagai alasan bagi terciptanya sekat-sekat pembatas bagi guru untuk tidak melakukan hal yang lebih besar di luar sertifikasi. Guru seolah terjebak oleh kategori-kategori, yang sebetulnya membatasi guru untuk melakukan sesuatu yang lebih. Dengan begitu, guru bisa lebih bebas untuk menuangkan ide-idenya bagi realitas di luar kelas dan untuk mengajar juga diajar dalam ruang kelas.
            Sebagai sebuah pendidikan yang berkemanusiaan dan memerdekakan, pendidikan kelompok subordinat mempunyai dua pembedaan tingkatan. Pertama, kaum suborinat membuka selubung dunia yang menindas dan mereka sampai pada komitmen praksis untuk transformasi yang mengubah. Kedua, pendidikan ini tidak hanya dimiliki oleh kelompok subordinat, namun menjadi proses pendidikan bagi semua orang dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan secara permanen. Dan kemerdekaan ini bisa di lihat baik dari kacamata ekonomi, maupun kacamata hubungan sosial yang lebih luas.
           
            Konsientisasi
            Lebih lanjut, metode pendidikan yang bersifat aktif dan secara terus menerus mereflesikan apa yang terjadi dalam dunia nyata ini disebut sebagai “konsientisasi.” Oleh Friere konsientisasi ini di definisikan sebagai proses dimana manusia mendapatkan kesadaran yang terus semakin mendalam mengenai realitas kultural yang melingkupi hidupnya dan akan kemampuannya untuk mengubah realitas itu. 
            Proses konsientisasi ini terjadi dengan membuka realitas yang mengungkung manusia dalam keterasingannya, sehingga dapat mencerminakan kebangkitan bagi kesadaran. Pada tahap kesadaran inilah, manusia mampu melontarkan kritik terhadap realitasnya sendiri dan melakukan perjuangan terhadapnya. Dengan begitu pembebasan yang dialami ini adalah pembebasan dari kesadaran naif menuju kesadaran kritis. Dengan merombak realitas statis tempat manusia hanya beradaptasi, kemudian dikembalikan pada proposisi yang seharusnya, yaitu realitas yang selalu dinamis, tempat manusia mengintegrasikan dirinya.
            Sederhananya, konsientisasi adalah proses dialektika antara aksi dan refleksi, juga sekaligus metode aksi untuk melibatkan diri dalam sistem pendidikan yang membebaskan, karena memuat harapan yang konkret dan terorganisir. Ketika manusia masuk dalam proses konsientisasi, ia tidak saja dituntut untuk mempersoalkan keterlibatan sosialnya. Tetapi juga perihal eksistensinya, bahkan tata sosial yang semula didukung dan dibentuknya sendiri. Inilah kiranya yang merupakan taruhan paling besar yang harus diterima jikalau seseorang menginginkan pembebasan.
            Mengapa? Karena kelompok dominan mustahil memberikan pembebasan. Apalagi, karena mereka punya kuasa dan selalu menyiapkan pembenaran-pembenaran atas realitas yang terjadi. Maka, yang mampu mengatasi penindasan adalah kelompok subordinat sendiri, dengan menjadi subjek-subjek yang bereksistensi bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya, pendidikan lah yang dapat merangsang kesadaran ini dapat terwujud, baik bagi perserta didik maupun pendidiknya sendiri (guru). Tetapi pendidikan tersebut mesti menerapkan unsur dialogis antara peserta didik dan pendidik, juga keduanya diusahakan untuk menjadi subjek juga objek sekaligus, dalam kegiatan belajar yang menerapkan model hadap masalah dan sama sekali menghapus sitem bank dalam pendidikan di negeri yang sama-sama kita cintai ini. Karena pengetahuan menurut pendidikan gaya bank ialah hasil penerimaan pasif oleh peserta didik. Sedangkan berdasarkan sistem pendidikan hadap masalah, pengetahuan adalah kegiatan aktif peserta didik dalam memandang realitas diri dan lingkungannya.

            Orientasi Pendidikan
            Karena itu lah, orientasi pendidikan pun tidak terhenti pada suatu usaha mewujudkan peserta didik yang cedas dalam ilmu yang ia pilih, juga unggul hanya dalam komunitas keilmuannya saja. Tetapi, basis keilmuaannya mesti mencakupi masyarakat di luar bidang keilmuanya. Sehingga bisa mendorong gerakan massa untuk bersama-sama melakukan perubahan atas hegemoni kekuasaan. 
            Seorang guru atau guru besar katakanlah, bukan hanya milik sekolah atau kampus dan tidak hanya bekerja di dalam sekolah. Laboratorium guru, adalah di luar sekolahnya. Karena dengan pengetahuan yang ia dapat di luar sekolah, seorang guru dapat memberi pengetahuan, analisa, bahkan penyadaran atas kondisi masyarakat kepada peserta didik dan kemudian mendorong peserta didik agar melakukan perubahan.
            Dalam konsepsi Friere, ada dua titik orientasi yang dinamakan sebagai child-centered dan community-centered. Child-centered adalah dasar kurikulum karena azas pendidikan untuk membimbing watak dan perkembangan kepribadian peserta didik. Kurikulum dirancang dengan maksud agar pendidikan berjalan efektif dalam mengembangkan kepribadian peserta didik yang total. Kurikulum mesti mencakup unsur-unsur yang menumbuhkan prakasa, emosi, improvisasi dan kreativitas, ekspresif, sikap sosial dan sikap kritis. Sedangkan, community-centered adalah dasar kurikulum kerena azas pendidian menumbuhkan kesadaran peserta didik akan realitas diri dan lingkungan sosialnya.  
            Dengan begitu, kurikulum pun merupakan muatan pengajaran yang mampu menumbuhkan kesadaran kritis. Artinya, kurikulum yang dapat mendorong berkembangnya pola pikir dan kemampuan refleksi peserta didik atas realitas. Baik sekolah, maupun universitas, bukan berfungsi untuk membentuk peserta didik yang hanya mampu menyesuaikan diri dengan pola dalam dunia kerja. Tetapi juga mampu mengubah pola relasi peserta didik dengan alam dan semua  kelas sosial tertentu. Apalagi, untuk mengubah relasi terhadap kelas-kelas tertentu yang hanya mengisap keuntungan dari keringat mantan peserta didik untuk kebesarannya sendiri.   

Merdeka Itu Aksi


Oleh: Damar Fery Ardiyan
Berbagai cara kita dapat memeringati kemerdekaan bangsa kita; Indonesia yang telah berumur 65 tahun ini. Di antara rutinitas yang kerap kita lakukan pasca kemerdekaan 1945 ini adalah mengenang simbol-simbol kemerdekaan juga tokohnya, mengibarkan bendera dwi warna, maupun memberi kritik juga pengertian baru bagi kemerdekaan bangsa yang lebih kontekstual dengan masa kini. Pengertian baru ini tentunya di luar distribusi sarana represif untuk perebutan kekuasaan terhadap tanah, air dan juga mahluk hidup yang berada di dalamnya. Melainkan meneruskan cita-cita proklamasi untuk menjadi Negara merdeka yang dapat menentukan nasib bangsa secara pribadi, dapat memenuhi kebutuhan rakyat atas sandang, pangan, papan dan untuk membuat sesuatu yang tidak sulit, yakni membuat senyum semua rakyat Indonesia, tanpa terpaku pada sekat-sekat mayoritas yang identik dengan pemilihan kepala lima tahunan.
            Alankah merdekanya kita jika semua rakyat di atas tanah dan air yang dulu diperebutkan ini dapat tersenyum karena berlimpahnya pangan, sandang yang layak dan papan kokoh yang dapat menyembunyikan raga kita dari debu, hujan, dingin dan panas.           Alangkah merdekanya kita jika semua rakyat di atas tanah dan air yang penuh dongeng ini dapat mendengar kebijakan yang tidak menyengsarakan rakyat sang pemilik kuasa. Alangkah merdekanya demikian, jika penguasa tak hanya mementingkan citra dan betapa bahagianya kita jika lembaga yang merealisasikan kebijakan publik tidak bertindak sebagai pahlawan kesiangan. 
Lantas, dengan cara apa kita mengisi kemerdekaan yang telah susah diperoleh ini? Apakah hanya dengan mengusung rasa nasionalisme yang saat ini seperti hidup segan mati pun tak mau. Karena pada kenyataan, nasionalisme kita seperti dirongrong oleh negara tetangga yang dipisahkan oleh batas laut darat dan nasionalisme kita banyak dipertanyakan dewasa ini. Tengok saja pada waktu dekat ini, ketika beberapa petugas yang tengah memantau batas perairan Bintan Indonesia di kepulauan Riau ditangkap oleh polisi laut Malaysia padahal mereka bermaksud melaksanakan tugas untuk menjaga perairan Indonesia, perairan mereka sendiri! Lucunya pemerintah Indonesia seperti tidak melakukan apa-apa selain mengomunikasikan masalah ini secara intensif agar tidak mengganggu hubungan bilateral Indonesia - Malaysia. Dengan demikian, saya merasa tidak melihat jelas batas subjek dan objek dalam kasus ini. Siapa yang ingin merusak hubungan bilateral dan siapa yang ingin memperbaiki hubungan tersebut. Apalagi, saya cukup muak dengan alasan “hubungan bilateral” seperti ini, karena faktanya mereka (Malaysia) pun seperti enggan untuk menjaga hubungan ini.  
Dengan demikian, apakah saya berlebihan jika berkata bahwa mereka, Malaysia lebih berani untuk melindungi warga mereka, bahkan melindungi dengan senjata tanpa melihat alasan-alasan normatif seperti itu. Bahkan, ketika melihat kenyataan nelayan mereka lah yang bersalah karena telah masuk wilayah Indonesia, mereka tetap membela dan melindungi.
Lantas pelajaran apa yang dapat diambil dari kasus ini? Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya mengenai aparat represi Malaysia karena telah berani dan berkomitmen untuk melindungi tanah, air dan warga negara yang hidup di dalamnya, inilah yang dapat diambil. Mereka seolah mendapat dorongan keberanian karena mungkin mereka sadar bahwa mereka lebih kuat dari kita. Apalagi jika bukan begitu? Karena secara sederhana, negara lemah tidak akan berani melawan negara kuat, meskipun berani mereka pasti memunyai senjata rahasia di balik kelemahannya itu.
            Oleh karena itu, saya mengharapkan agar pemerintah lebih tegas, tidak terpaku dengan penyelesaian secara birokratik, diplomasi dan terpatri pada hitung-hitungan rugi karena banyak warga kita yang bekerja di sana. Dalam hal ini bukan berarti saya membesar-besarkan atau hanya reaktif saja, karena pada faktanya masalah mengenai batas negara sudah berlarut-larut, sudah demikian usang tanpa ketegasan. Oleh karena itu, dengan dorongan kemerdekaan negara kita yang telah menjamin semua tanah, air dan masyarakat sebagai warga negara untuk hidup secara merdeka tanpa intimidasi, kita wajib menjadi masyarakat aksi. Karena reaktif bukan hanya berarti tindakan banal, merusak dan memperkeruh masalah ini. Melainkan dapat diartikan sebagai tindakan yang setidaknya dapat melahirkan ketegasan agar kita tidak diinjak jari kemudian kepala, agar mereka tahu kita tidak diam.
Apalagi, reaksi tersebut bukan lah reaksi kosong tanpa basis data atau informasi yang jelas mengenai kasus ini. Karena berdasarkan keterangan dari media yang mereka ulang fakta lapangan pada saat penangkapan dan penembakan itu terjadi, kita dapat menyimpulkan bahwa petugas kita tidak salah. Dengan demikian, mengapa mereka mesti ditangkap dan diintimidasi oleh senjata oleh aparat laut Malaysia. Apakah kebenaran tidak lagi menunjukan dirinya sebagai kebenaran dewasa ini? Sungguh ironis bukan? Siapa maling, siapa tertangkap.     
Atas fenomena yang terjadi jelang perayaan kemerdekaan bangsa kita ini, tentu kita semua mengharapkan bahwa kasus ini tidak terjadi lagi dikemudian hari. Dengan cara apa? Itu menjadi pekerjaan rumah kita semua sebagai bangsa dan warga negara Indonesia. Tetapi menurut saya, dalam waktu dekat ini pemerintah mesti lebih reaktif dan tegas terhadap persoalan yang sudah usang seperti kapal-kapal laut penjaga batas negara kita ini. Walaupun kita belum punya penyelesaian jelas secara tertulis: MOU dan hukum misalnya. Namun, tidak ada salahnya jika kita mengalihkan pandangan dari fantasi atau ilusi yang selalu mengonotasikan tindakan reaktif sebagai tindakan yang tergesa-gesa dan bernada negatif. Karena tentu kita wajib untuk bereaksi terhadap masalah-masalah seperti ini.
Bahkan saya pikir presiden sebagai tiang tertinggi di negara kita mesti mengomentari masalah ini, karena masalah bukan hanya mengenai nota keuangan dan RAPBN walaupun hal ini begitu penting kadarnya. Oleh karena itu, sebagai warga negara kita tentu ingin mendengar pemimpin kita sang pemegang tongkat komando atas aparatur negara berkata. Sehingga kita tidak mengidentikan beliau sebagai seorang yang diam. Apalagi dengan mengingat bahwa terkadang mata tak mengetahui apa yang dilakukan tangan dan kaki kita untuk bangsa ini, jika kita tidak berbicara. Lalu, saya mengakhiri catatan ini dengan seruan seperti yang tertulis pada salah satu bait lagu kebangsaan Indonesia Raya: “…..marilah kita berseru, Indonesia bersatu.”  

Praktek Manipulatif Pasca G30S


Oleh: Damar Fery Ardiyan

Kebanyakan dari kita yang lahir pasca 1965, tentu mengenal sejarah Gerakan 30 September 1965 melalui institusi pendidikan, selaku aparatur yang sangat massif untuk membangun ideologi mayoritas agar kita kemudian dapat menilai sebuah peristiwa, tidak terkecuali G30S. Bahkan perkenalan itu pun diperkuat oleh buku-buku, artikel-artikel, surat kabar, televisi yang sepertinya ingin membangun citra dalam kesemuan, sehingga kita dapat mengenali peristiwa dan latarbelakangnya, serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Padahal, peristiwa dan orang-orangnya tidak pernah kita jumpai seumur hidup kita, apalagi mengenalnya.
            Mungkin di sinilah kekuatan dari ulasan sejarah, di mana ceceran fakta, baik lisan maupun tulisan dapat dikumpulkan kembali menjadi suatu peristiwa yang utuh dan dapat kita percayai kemudian sebagai kerangka gagasan. Sehingga, kita yang lahir dalam rentang tahun cukup jauh setelah peristiwa lampau dapat mengetahui dan sekaligus mengerti mengenai peritiwa berdarah pada 1965 atau setidaknya kita akan dapat menjawab pertanyaan guru di sekolah mengenai siapa dalang dari G30S yang ‘sadis’ itu.
Dalam hal ini, sistem diskursif melalui simbol-simbol yang di mediasi melalui buku, surat kabar dan televisi memberikan pengaruh yang besar untuk memobilisasi pendapat umum mengenai suatu peristiwa. Tengok saja pada sejarah G30S yang lahir dari rahim Orde Baru telah banyak dipercaya oleh masyarakat sebagai fakta. Sehingga kemudian anggapan tersebut menjadi sebuah kebenaran dan menjadi landasan seseorang untuk mencerca bahwa gerakan itu gerakan yang tidak manusiawi, sadistis, anti Tuhan, dll.
Persepsi seperti itu mungkin wajar, karena perkembangan sejarah G30S ini tak lepas dari sistem diskursif melalui simbol-simbol yang di mediasi buku sejarah, monumen Pancasila Sakti, museum peringatan dan pemutaran film G30S yang dipraktekan oleh kekuasaan Orba. Namun, sistem simbol ini tidak diciptakan tanpa perencanaan dan tujuan. Karena melaluinya, Orba ingin membentuk suatu persepsi bahwa Soeharto adalah penyelamat bangsa dari serangan berdarah yang (katanya) dilakukan salah satu partai besar ketika itu, sehingga dirinya dapat menaiki tahta eksekutif. Seperti yang dikatakan John Roosa bahwa “dalam membangun ideologi pembenaran bagi kediktatorannya, Soeharto menampilkan diri sebagai juru selamat bangsa dengan menumpas G30S. Rezim Soeharto terus menanamkan peristiwa itu dalam pikiran masyarakat melalui semua alat propaganda Negara..,” (Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto).  
Dengan demikian, pembangunan sistem simbol menjadi penting adanya bagi tiang kebenaran Soeharto dalam menghancurkan PKI sebagai partai dan PKI sebagai ideologi. Sehingga, hal ini menjadi pembenar bagi rezim untuk memenjarakan serta membunuh banyak orang yang terlibat maupun tidak. Dan ironisnya kejadian pasca gerakan ini tidak diberitakan oleh surat kabar ketika itu, karena Angkatan Darat memberangus hampir semua surat kabar dalam pekan pertama Oktober 1965 dan menerapkan sensor. Bahkan koran-koran independen, seperti Kompas ikut ambil bagian dalam kampanye militer untuk menggalakan histeria anti-PKI (baca Roosa: 26-30).
Oleh karena itu, media komunikasi apapun memilik peran sentral dalam memunculkan suatu wacana dan juga menenggelamkan banyak wacana dari peristiwa G30S ini. Apalagi jika media tersebut telah dikuasai dan dibentuk oleh seorang yang memiliki kekuasaan penuh terhadap aparatur represi maupun ideologi seperti Seoharto ketika hidup. Seperti yang dikatakan Daniel Dhakidae bahwa “dengan menguasai media, Orde Baru menguasai bahasa dan sekaligus mejadi produsen bahasa paling utama sehingga bahasa menjadi teknologi kekuasaan yang efektif,” (dalam Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru).
Tetapi bagaimanapun, sebagaimana sentralnya media dalam menciptakan dan mempertahankan stigma Orde Baru terhadap PKI/Komunisme, media pun dapat dijadikan sarana untuk meresistensi hegemoni Soeharto dalam persoalan G30S ini dengan mengungkapkan fakta-fakta sejarah baru yang dapat mendelegitimasi fakta sebelumnya yang pernah digembar-gemborkan rezim militer Soeharto melalui institusi pendidikan, buku-buku, televisi, surat kabar, monumen dan museum peringatan. Dengan kata lain, media dapat dijadikan sarana bagi pertarungan simbolik antara perspektif yang mapan dan perspektif yang muncul belakangan. Tetapi, suatu bentuk resistensi seperti itu agaknya sulit dilakukan, karena produk hukum Orde Baru seperti TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 masih bertahan hingga saat ini. Tengok saja dalam kasus pelarangan beredar bagi buku John Roosa oleh Kejaksaan Agung pada Desember 2009, padahal Roosa ingin mengungkap fakta baru mengenai G30S melalui bukti-bukti baru yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya secara ilmiah.  
Melihat fenomena itu sepertinya ketakutan Soeharto terhadap kumpulan kertas yang dapat membuka kedok mengenai kudeta tanggal 1 Oktober 1965 sebagai suatu kudeta militer terhadap para jenderal senior dalam Angkatan Darat (bukan kudeta Partai Komunis Indonesia) masih dipertahankan hingga saat ini. Entah untuk apa. Tetapi yang jelas, hal ini seolah menjadi sejarah mutlak yang tidak dapat berubah. Padahal, tidak sedikit buku yang mengungkapkan bahwa Orde Baru lah yang telah membangun sistem simbol melalui kekuasaan, baik represi maupun ideologi. Sehingga, fakta tersebut dapat diragukan kesahihannya, karena dekat dengan praktek manipulatif sebuah kekuasaan yang ingin selalu menjaga hegemoni dan mendisiplinkan masyarakat sebagai warga Negara untuk tidak mempelajari ajaran yang dapat merongrong kekuasaan, lebih-lebih untuk mempelajari karya-karya Karl Marx yang menentang pemiskinan oleh kapitalisme itu.
Lantas untuk apa hakikatnya sejarah seperti ini dipertahankan? Jika sejarawan telah berhasil merelasikan fakta-fakta yang telah tercecer dan memperjelas jalan mengenai G30S yang telah lama berada dalam sebuah labirin ini tidak dianggap, bahkan dilarang. Apa sejarah hanya dijadikan instrument bagi legitimasi sebuah kekuasaan untuk memberikan kesadaran palsu kepada masyarakat mengenai suatu peristiwa? Ataukah sejarah dapat dijadikan pijakan bagi bangsa untuk memperbaiki kesalahan dan berpijak lebih tegas untuk menyongsong masa depan?
Bagi saya, sejarah tidak akan berarti apa-apa jika tidak dapat mengubah perspektif kita dalam melihat, seperti ketika kita melihat G30S ini. Bahkan ulasan sejarah akan sangat berarti jika dapat merangsang kekuasaan, cendekiawan, masyarakat untuk menghancurkan sama sekali sistem gagasan yang telah dibangun oleh Orba, baik itu berupa buku, monumen peringatan, maupun hukum-hukum yang masih berlaku hingga saat ini. Karena sarana-sarana represi dan idelogis seperti ini dapat menyesatkan jika digunakan penguasa yang hanya ingin mengukuhkan rasa takut semu bagi masyarakat untuk mengartikan paham tertentu secara dangkal, sebatas paham yang dapat mendorong aksi G30S terulang.     
Mengenai hal ini, menarik untuk menutup tulisan ini dengan ungkapan Dhakidae mengenai sejarah. Katanya, “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memproyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat di sini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhadap masa lalu dengan memeriksa kembali masa lalu itu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian.”